TEORI BELAJAR

Belajar adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam kemampuan manusia yang bukan merupakan hasil dari proses pertumbuhan (growth process).

 

Bagaimana kita belajar ???

 

Reinforcement Theory (Teori Penguatan)

Teori ini menekankan bahwa orang akan termotivasi melakukan atau menghindari melakukan suatu perilaku karena pengalaman atas hasil/ akibat dari perilaku tersebut di masa lalu. Artinya seseorang akan termotivasi untuk melakukan atau menghindari suatu perilaku tergantung pada apa yang diperolehnya dari perilaku tersebut.

Positive Reinforcement/ Penguat positif : jika hasil/ akibat dari perilaku itu berupa sesuatu yang menyenangkan.

Negative Reinforcement/ Penguat negatif : jika hasilnya tidak menyenangkan.

Perilaku yang  menyebabkan diperolehnya hasil yang menyenangkan cenderung akan diulangi, sementara perilaku yang menyebabkan akibat yang tidak menyenangkan akan dihindari.

Adakalanya penguat positif maupun negatif ini berada pada kondisi yang kurang tepat. Salah satu proses untuk menghilangkan efek penguat positif maupun negatif yang kurang tepat, disebut Extinction. Hukuman (punishment) terhadap perilaku yang tidak diharapkan juga kadang digunakan dalam teori ini untuk menghilangkan perilaku buruk tersebut.

Dalam perspektif pelatihan, teori penguat menunjukkan bahwa agar peserta pelatihan dapat memperoleh pengetahuan, mengubah perilaku dan memodifikasi keterampilan maka pelatih harus mampu mengidentifikasi hal-hal apa yang dapat menjadi penguat positif atau negatif dalam pelatihan tersebut.

 

Social Leraning Theory (Teori Belajar Sosial)

Teori ini menekankan bahwa seseorang belajar melalui proses pengamatan/ observasi terhadap perilaku orang lain (model) yang mereka anggap berpengetahuan atau terbukti mampu (credible). Teori belajar sosial juga menunjukkan bahwa perilaku yang diberi penguat atau diberi hadiah/ penghargaan (rewards) akan cenderung diulangi. Perilaku model yang mendapat penguat atau penghargaan akan diikuti oleh pengamatnya (observer). Menurut teori belajar sosial, belajar keterampilan atau perilaku baru berasal dari :

  1. secara langsung mengalami konsekuensi dari perilaku dari keterampilan yang digunakan
  2. proses mengamati/ mengobservasi orang lain dan melihat konsekuensi dari perilaku orang tersebut

teori belajar sosial juga menyatakan bahwa proses belajar dipengaruhi oleh self efficacy seseorang. Self efficacy adalah penilaian seseorang tentang kemampuannya untuk berhasil menguasai pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan.

Proses belajar :

 

Attensi (attention) à  Retensi (retention)  à   Reproduksi motorik (motor reproduction)  à Proses motivasi (motivational process)

 

Atensi : menyatakan bahwa seseorang tidak akan belajar melalui pengamatan/ observasi jika mereka tidak menyadari pentingnya kinerja yang ditunjukkan model. Para peserta harus menyadari keterampilan atau perilaku yang mereka observasi dan model adalah seseorang yang mereka ketahui sebagai seorang yang ahli

Retensi : para peserta mengingat perilaku atau keterampilan yang mereka observasi. Perilaku atau keterampilan harus diberi kode dalam ingatan sehingga mudah untuk diingat kembali. Kode tersebut dapat berupa image visual (simbol) atau pernyataan verbal.

Reproduksi motorik : mencoba perilaku yang diobservasi untuk melihat efek dari pemberi penguat yang sama seperti yang diterima oleh model. Perhatikan bahwa perilaku yang dicontoh pertama kali oleh peserta pasti belum sempurna, mereka butuh latihan umpan balik agar dapat sama/ serupa dengan perilaku model.

Proses motivasi : peserta akan senang mengikuti perilaku model, jika memperoleh hasil yang positif. Perilaku yang diberi penguat akan diulang di masa yang akan datang.

 

Cognitive Theories (Teori Kognitif)

Menggambarkan cara individu belajar untuk mengenali dan mendefinisikan masalah serta bereksperimen untuk menemukan solusinya. Menurut teori, jika mereka berhasil menemukan sendiri solusinya maka hal itu akan lebih lama disimpan dalam memorinya. Teori kognitif memiliki dasar pemikiran : discovery atau do-it yourself.

Teori belajar melalui pengalaman (Experiental Learning) seperti yang digambarkan Kolb, Rubin dan Mc Intyre terdiri dari 4 siklus tahapan :

  1. pengalaman nyata
  2. observasi dan refleksi terhadap pengalaman
  3. pembentukan konsep abstrak dan generalisasi yang menjelaskan tentang pengalaman dan menentukan bagaimana hal itu dapat diterapkan
  4. menguji implikasi konsep pada situasi yang baru

keempat tahap ini berlangsung  seperti suatu siklus. Tiap orang mempunyai gaya belajar masing-masing.

Hal terpenting yang harus dilakukan pelatih adalah menyesuaikan pendekatan yang dilakukan dengan gaya belajar para peserta.

 

General Laws of Learning

A law of learning adalah suatu pernyataan yang menggambarkan kondisi yang harus ada agar peserta dapat belajar, yaitu :

a.     Law of Effect, yaitu kondisi terbaik dimana orang dapat belajar adalah saat berada dalam keadaan yang menyenangkan dan mendapat penghargaan (rewarding)

b.     Law of Frequency, yaitu semakin sering peserta berlatih maka semakin besar kemungkinan untuk berhasil

c.     Law of Association, yaitu materi baru apapun yang akan diajarkan dalam pelatihan sebaiknya memiliki hubungan dengan materi yang telah diketahui atau dikuasai.

 

Teori Belajar orang Dewasa (Adult Learning Theory)

Teori belajar orang dewasa dikembangkan sebagai teori khusus untuk membahas bagaimana orang dewasa belajar. Para psikolog pendidikan yang mengetahui keterbatasan teori pendidikan formal yang biasanya ditujukan  bagi anak-anak atau remaja, kemudian mengembangkan Andragogy yaitu teori belajar orang dewasa.

Knowles mengemukakan karakteristik orang dewasa yang harus diperhatikan dalam proses pendidikan, yaitu :

  1. konsep diri (self concept) : orang dewasa memiliki konsep diri yang telah berkembang dari pribadi yang dependen menjadi seorang yang mampu mengerahkan diri sendiri (self directed)/ mandiri
  2. pengalaman (experience) : orang dewasa memiliki cadangan pengalaman yang  terus terakumulasi sehingga meningkatkan sumber dayanya untuk belajar.
  3. orientasi pada belajar (orientation to learning) : pada orang dewasa, persepektifnya tentang waktu berubah dari penundaan penerapan ilmu menjadi langsung segera mendapat pengetahuan
  4. kesiapan belajar (readiness to learn) : pada orang dewasa, kesiapannya untuk belajar menjadi terarah pada peningkatan tugas perkembangan dalam peran sosialnya
  5. motivasi belajar (motivation to learn) : orang dewasa mempunyai motivasi belajar yang internal dan eksternal

Berdasarkan hal-hal diatas maka pendidikan terhadap orang dewasa sebaiknya memenuhi prinsip sebagai berikut:

  1. orang dewasa perlu terlibat dalam proses perencanaan  dan evaluasi program pengajaran
  2. pengalaman (termasuk kesalahan) merupakan dasar dari aktivitas belajar
  3. orang dewasa sangat tertarik pada materi belajar yang secara langsung berkaitan dengan pekerjaan atau kehidupan pribadi sehari-hari
  4. pendidikan orang dewasa adalah pendidikan yang terpusat pada masalah (problem-centered) daripada yang terpusat pada isi materi (content-centered)

 

Transfer of Training

Transfer of Training adalah kemampuan peserta menerapkan secara efektif dan berkesinambungan  apa yang telah mereka pelajari (pengetahuan, ketrampilan, perilaku dan lain-lain) ke dalam pekerjaannya. Lingkungan kerja memegang peranan penting dalam memastikan apakah transfer of training dapat terjadi. Namun transfer of training juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi peserta dan desain pelatihan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s